"Ekskul" Pencinta Alam, Pendidikan Karakter yang Sebenarnya Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Ekskul" Pencinta Alam, Pendidikan Karakter yang Sebenarnya...

Posted Kompas.com, on 16 April 2018

KOMPAS.com - Tewasnya dua siswa SMAN3 Setiabudi DKI saat pelatihan untuk anggota baru klub pencinta alam sekolah tersebut memicu kemarahan Pjs. Gubernur DKI Jakarta dan Kadisdikbud DKI Jakarta hingga mengancam akan membekukan semua kegiatan pencinta alam di DKI yang kadung tumbuh subur bukan saja di Jakarta, tapi di seluruh Indonesia. Kematian tersebut disebabkan kekerasan yang dilakukan oleh senior pelatih, meskipun dalam pengawasan guru pembina. Tentu saja, jika pemerintah DKI Jakarta melarang permanen kegiatan yang sangat baik itu, dapat menjadi rujukan daerah lain ketika terjadi kecelakaan serupa saat berkegiatan di alam bebas. Yang terjadi, kegiatan pencinta alam bakal mati suri. Tumbuhnya kegiatan alam bebas dalam bentuk petualangan tersebut sangat baik, karena sebagai kegiatan ekstra kurikuler (ekskul), pencinta alam menjadi praktik pendidikan karakter yang paling bernas dan berkelanjutan. Jika pada era 1970-an kegiatan ini masih dianggap elitis dan perbuatan nekat, saat ini sudah menjadi tren. Tren mendaki gunung, misalnya. Di era tersebut kelompok yang bergaung di tingkat nasional hanya sedikit, sebutlah misalnya Mapala UI, Wanadri, atau Aranyacala Trisakti. Saat ini, hampir tak ada perguruan tinggi di Indonesia yang tak punya klub pencinta alam. Pun, demikian dengan SMA/SMK yang umumnya punya ekskul pencinta alam. Ekskul ini dibanjiri murid yang ingin berekspresi dan terlihat keren. Namun, beberapa SMA/SMK masih menunda merestui kegiatan pencinta alam menjadi ekskul resmi. Alasannya adalah ketiadaan guru pembimbing, mengingat risiko kegiatan di alam bebas cukup tinggi. Maklum, beberapa sub-kegiatan pencinta alam memang tergolong olahraga atau hobi ekstrim, yaitu arung jeram, memanjat tebing, menelusuri goa, serta mendaki gunung salju. Tumbuhnya kegiatan alam bebas dalam bentuk petualangan tersebut sangat baik, karena sebagai kegiatan ekstra kurikuler (ekskul), pencinta alam menjadi praktik pendidikan karakter yang paling bernas dan berkelanjutan.(Wahyu Wening/MAPALA UI) Pendidikan Karakter Sebelum hiruk pikuk kurikulum baru, Kementerian Pendidikan Kebudayaan (Kemendikbud) sudah heboh mengenai pendidikan karakter dengan maksud menyikapi kelesuan sikap dan moral bangsa lewat kampanye 18 butir nilai-nilai pendidikan karakter. Tetapi, 18 butir karakter baik yang wajib itu sangat sulit diajarkan, karena karakter yang membekas bermula dari kebiasaan yang terukir dan menjadi sikap keseharian. Menjadi pegiat ekskul pencinta alam mendidik karakter murid menjadi disiplin. Kecerobohan akan memunculkan risiko celaka hingga kematian yang semestinya bisa diperhitungkan (predicted risks), kecuali resiko alam yang tak bisa diperhitungkan, semisal gempa bumi atau gunung meletus. Pencinta alam juga dilatih tangguh fisik dan psikis menghadapi dinginnya puncak gunung, ganasnya arus liar dan gulungan ombak di laut. Kegiatan ini juga melatih keuletan melewati hambatan alam yang sangat diperlukan saat bekerja. Alam mengajarkan kebersahajaan, batas kekuatan dan kelemahan diri yang berujung pada kerendahan hati dan penghargaan kepada orang lain. Alam juga mengajarkan rasionalitas dan kejujuran bersikap, disinilah integritas pribadi tumbuh dan matang. Masih banyak sikap dan karakter handal yang bisa ditumbuhkan dengan menjadi pencinta alam seperti kerjasama, faham tentang keberagaman, kesetaraan manusia dan tentu kreatifitas dalam mencipta. Alam mengajarkan kebersahajaan, batas kekuatan dan kelemahan diri yang berujung pada kerendahan hati dan penghargaan kepada orang lain. Alam juga mengajarkan rasionalitas dan kejujuran bersikap, disinilah integritas pribadi tumbuh dan matang.(Sofyan Nurhadi/Mapala UI) Mendidik pencinta alam Mapala UI dan Wanadri sebagai klub kegiatan alam bebas tertua di Indonesia, memiliki tradisi mendidik dalam bentuk pelatihan calon anggota baru. Di Mapala UI diperlukan sedikitnya 6 (enam) bulan teori dan praktek beragam jenis kegiatan alam bebas dan ditutup dengan masa pengembaraan dalam "perjalanan panjang" selama lebih dari sepekan dan berujung dengan perjalanan menuju lokasi tertentu untuk dilantik menjadi anggota baru dengan nomer anggota. Mungkin saja pola itu diadopsi oleh beberapa ekskul klub pencinta alam, tetapi seringkali dimodifikasi dengan tambahan kekerasan dari senior kepada junior agar tidak "cengeng". Padahal, sekali pun pada pendidikan TNI dan Wanadri yang terkenal berat, tak pernah ada yang tewas karena kekerasan saat berlatih. Sekali lagi, tewas karena tindak kekerasan, bukan latihan fisik atau berkegiatan yang menguras fisik. Disiplin, tangguh dan ulet, serta kreatif adalah keharusan dalam kehidupan atau bergiat di alam bebas. Tetapi, karakter itu mustahil tumbuh dalam cara mendidik dengan kekerasan dan instan. Di Wanadri, karena beragamnya calon anggota, lebih banyak melatih fisik terstruktur dan diceburkan ke situasi ekstrim. Sementara itu, di Mapala UI, karena calon anggotanya lebih seragam, mengutamakan melatih teknis dan gemblengan psikologis dalam bentuk "cela celaan". Kedua cara itu terbukti mampu mendidik calon anggota menjadi manusia tangguh saat bekerja dan tidak menghianati kredo seorang pencinta alam, bahwa alam itu tidak bisa ditaklukkan. Prinsip paling utama dipegang oleh anggotanya sangat sederhana, tapi selalu membekas, yaitu; "Jangan bunuh apapun kecuali waktu. Jangan ambil apapun, kecuali foto dan jangan tinggalkan apapun kecuali jejak kaki." Melihat hal itu, tentu saja, Gubernur dan Kadisdik DKI harus membuka kembali dan membina intensif ekskul pencinta alam di SMA/SMK dengan cara menggandeng klub sejenis di tingkat perguruan tinggi yang mendidik calon anggotanya dengan benar sebagai mentor. Karena dengan begitulah, tujuan Kemendikbud untuk menerapkan 18 butir pendidikan karakter kepada siswa lebih mudah diterapkan.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul ""Ekskul" Pencinta Alam, Pendidikan Karakter yang Sebenarnya....", https://edukasi.kompas.com/read/2014/07/24/14131261/.Ekskul.Pencinta.Alam.Pendidikan.Karakter.yang.Sebenarnya.. 


Adventure Never Dies

Pembukaan Avtech Store di Plaza Festival Jakarta

Pembukaan Avtech Store di Plaza Festival Jakarta

Pengunjung melihat perlengkapan outdoor pada pembukaan Avtech Store di Plaza Festival, Jakarta, Sabtu (2/2/2019). PT Indi Kusuma Anugrah Mandiri ...
Memasyarakatkan Produk Outdoor, Ini Gebrakan Kolaborasi Anak Negeri

Memasyarakatkan Produk Outdoor, Ini Gebrakan Kolaborasi Anak Negeri

Jakarta, 2 Februari 2019 ALAMISME.id Berlatar belakang dari ...
Yudhi Avtech: Bisnis Harus Ikuti Perubahan Perilaku Pasar

Yudhi Avtech: Bisnis Harus Ikuti Perubahan Perilaku Pasar

KedaiPena.Com – Owner produsen peralatan alam bebas Avtech, Yudhi Kurniawan mengatakan pentingnya memahami perubahan perilaku pasar dalam mengelola ...

Libur Lebaran Taman Nasional Komodo Dikunjungi 20 Ribu Wisatawan

Komodo | Foto: Istimewa KedaiPena.Com  Taman Nasional ...

Taman Safari Indonesia Kebanjiran Pengunjung, Satwanya Stres Gak Ya?

Taman Safari Indonesia Bogor | Foto: Dok KedaiPena.Com ...

Yuk Libur Lebaran ke Pulau Pahawang

Pulau Pahawang | Foto: Ricki Sismawan/KedaiPena.Com KedaiPena.Com  ...

Avtech Indonesia

RopeBag Ascend Pro 30 Sederhana dan fungsional


Forests cover of all land on Earth, they help us breathe, they clean up dirty air, they fight flooding lets we fight to protect our forest, stay alive and Happy International Forest Day! . . . #Adventuretechnology #Outdoorequipment #Outdoorgear ##Avtech #legendisback #Adventureneverdies #Tuhanbersamapetualangsejati
AVTECH X BOOGIE Boogie merupakan brand outdoor senior dengan spesialisasi yakni memproduksi alat-alat serta kebutuhan untuk kegiatan water sport. Boogie adalah brand yang juga seangkatan dengan Avtech, dan tentunya memiliki nama serta reputasi yang sangat baik, khususnya di telinga para sahabat yang sudah cukup lama menekuni kegiatan alam bebas. Bersama Boogie, di tahun ini Avtech berkolaborasi dan menciptakan beragam produk dengan series “RIVERLIFE”. Kolaborasi yang kami lakukan ini dapat dikatakan sebagai terobosan baru dan yang pertama dilakukan di kancah outdoor Indonesia. Mengapa RIVERLIFE? Ada apa dengan kehidupan sungai? Tidak bisa kita pungkiri, kegiatan alam bebas tidak hanya soal mendaki gunung dan menyusuri lereng menuju puncak saja. Namun, kegiatan alam bebas juga meliputi kegiatan di sungai yang juga tidak kalah menarik dari mendaki gunung. Maka dari itu, kali ini kami hadir dengan tujuan ingin mengangkat sungai sebagai salah satu objek yang juga sudah lama dinikmati oleh sejumlah sahabat penggiat alam bebas. AVTECH X BOOGIE ingin ikut hadir bersama sahabat dalam merekam dan mendokumentasikan kembali setiap kegiatan yang dilakukan di sana. Setiap keringat, semangat, dayungan, prestasi, dan pencapaian merupakan sesuatu yang sangat bergharga yang akan menjadi sebuah cerita baru dari penjelajahan arus dan jeram. Nantikan selalu setiap produk hasil kolaborasi AVTECH X BOOGIE yang penuh inovasi. Dan pastikan sahabat memiliki setiap produknya yang akan membawa sahabat menikmati setiap aktivitas outdoor. ⚫ #Avtech #AdventureTechnology #Outdoorequipment #Outdoorgear #legendisback #Adventureneverdies #Tuhanbersamapetualangsejati #Boogie #Riverlife
Selamat pagi, sahabat! Mulai harimu dengan sesuatu yang meringankan langkahmu. Seperti produk pertama hasil kolaborasi AVTECH X BOOGIE ini. Sebuah sandal gunung yang dirancang fit di kaki sahabat, dan tentunya sangat nyaman digunakan pada setiap aktivitas sahabat. Tunggu apa lagi? Yuk langsung cek @officialstore_avtech untuk info dan spesifikasi produk. Dan segera miliki produk ini. ⚫ #Avtech #AdventureTechnology #outdoorequipment #outdoorgear #legendisback #adventureneverdies #Tuhanbersamapetualangsejati #Boogie #Riverlife
Kampanye dan aksi untuk menyelamatkan planet Bumi dengan nama Earth Hour akan dilaksanakan kembali di tahun ini. Tepatnya pada hari ini, 30 Maret 2019. Biasanya aksi ini dilangsungkan selama satu jam, mulai dari pukul 20:30 sampai 21:30 waktu setempat, dan beberapa bangunan ikonik di seluruh dunia akan memadamkan lampunya demi mengikuti aksi ini. Aksi Earth Hour ini telah di gagas oleh WWF selama beberapa tahun. Dan di tahun ini bertajuk “#Connect2Earth”. Yang mana kampanye ini bertujuan untuk mengembalikan hubungan baik antara manusia dan alam. Jadi, mari kita selamatkan Bumi dengan mengikuti aksi ini nanti malam, guna menjaga harmonisasi kelestarian seisi alamnya. 🔺️ #Avtech #AdventureTechnology #outdoorequipment #outdoorgear #legendisback #adventureneverdies #Tuhanbersamapetualangsejati #WWF #earthhour2019
Mana yang lebih Sahabat gemari; mendaki gunung atau menyelam di laut? Atau malah dua-duanya Sahabat gemari? Kalau begitu, jangan lewatkan event tahunan Deep & Extreme Indonesia 2019 yang akan berlangsung pada 4-7 April 2019 di Hall B, Jakarta Convention Center. Dalam event ini, Sahabat akan dimanjakan dengan berbagai acara serta barang-barang kebutuhan yang selama ini dicari. Jangan lupa kunjungi dan belanja di booth Avtech yang terletak di zona Extreme Indonesia booth H14. Catat tanggalnya dan ajak semua teman serta kerabatmu ya, Sahabat. Sampai jumpa di sana! 🔺️ #Avtech #AdventureTechnology #outdoorequipment #outdoorgear #legendisback #adventureneverdies #Tuhanbersamapetualangsejati @deepandextreme #DXI2019
Sahabat Avtech, disadari atau tidak, ada sedikit perbedaan cara menaruh/menyimpan dompet antara pria dan wanita. Jika wanita cenderung menaruh dompetnya di dalam tas atau hanya menentengnya saat bepergian, berbeda dengan pria. Kebanyakan dari Sahabat (khususnya para pria) seringkali menaruh dompet di saku celana bagian belakang. Mungkin karena spot itu yang paling strategis untuk mengambil atau menaruh dompet. Namun, tahukah kalian jika cara tersebut adalah cara yang keliru dan memiliki resiko. Mengapa? karena dengan menaruh dompet di saku belakang celana, dapat menyebabkan terganggunya saraf belakangmu. Kelainan saraf yang disebabkan karena kebiasaan menaruh dompet di saku belakang, dijuluki “hip-pocket syndrome” atau “wallet-neuropathy”. Gejala umum yang dirasakan biasanya adalah rasa nyeri dari panggul ke paha yang disebabkan oleh saraf terjepit (sciatica). Padahal, saraf panggul merupakan saraf terpanjang yang ada di tubuh, dimulai dari pinggul dan bawah tulang belakang ke bagian belakang kaki. Kondisi ini akan diperparah jika kamu duduk terlalu lama sementara bokongmu terganjal dompet di saku belakang. Nah, untuk menghindari risiko gangguan saraf pada tulang belakang, kamu bisa terapkan cara-cara ini: 1. Lakukan sedikit peregangan sebelum duduk. 2. Keluarkan dompet dari saku belakang sebelum duduk meskipun tidak tebal. 3. Letakkan dompet pada tempat alternatif lainnya seperti saku jaket atau di dalam waist bag. 4. Duduklah dengan nyaman di kursi atau sofa dengan permukaan yang datar sehingga tidak mengganggu saraf dan struktur tulang dan ototmu berfungsi dengan benar. 5. Jika sudah timbul keluhan sebaiknya segera konsultasikan dengan fisioterapis untuk memperbaiki postur tubuh agar tidak memperburuk keadaan. Mulai sekarang, mari kita lebih memperhatikan kesehatan dan keselamatan tubuhmu ya, Sahabat. Dan buat Sahabat yang wanita, coba sadarkan teman atau pacarmu untuk senantiasa berhati-berhati ya. 🔺 #Avtech #AdventureTechnology #outdoorequipment #outdoorgear #legendisback #adventureneverdies #Tuhanbersamapetualangsejati